Rabu, 30 November 2016

setitik harapan

Kepergian memang menyakitkan tapi terkadang harus dilakukan untuk membiarkan kebahagiaan datang.
Aku, seorang gadis berjilbab, seorang gadis sederhana yang menginginkan cinta dan kasih sayang yang sederhana pula. Aku berasal dari keluarga kaya tapi hidupku seakan seperti mereka yang ada di luar sana, aku mempunyai saudara kembar Yusriana, ya, wajahnya sangat mirip denganku tetapi tidak dengan kehidupannya, kehidupannya sempurna bahkan terlalu sempurna menurut saya. Mengapa tidak? Apa yang dibutuhkannya selalu ada dan akan selalu dipehuni.
Setiap pulang sekolah makanan siangku adalah omelan dari seorang ayah sehingga membuatku sangat tertekan. Sejak aku menyadari bahwa omelan itu hanya sekedar omelan bahkan aku tidak pernah melakukan semua kesalahan yang membuat ayah marah. Lama aku berpikir, tidak ada salahnya jika apa yang dikatakannya tentangku aku lakukan, dia yang mengajariku melakukan hal ini. Sangat jarang aku pulang sebelum Ashar. Ya, aku selalu menghabiskan waktuku di pinggir danau, melempar batu dan termenung.
“Yusriani kamu darimana saja?” gertak sang ayah
“Dari danau ayah”. Setelah menjawabnya dengan sangat sopan menurutku. Ayahku lalu melempariku Koran yang sedang ia baca.
“Dasar, gadis pemalas, kau tahu ibu dan adikmu sangat bekerja keras hari ini, sedangkan kau, selalu ke tempat itu”. perkataan itu sudah menjadi makanan sehari-hariku, jadi aku hanya berkata
“Maaf, ayah” lalu berjalan menuju kamarku.
Sampai di dalam kamar, aku langsung merebahkan tubuhku di atas kasur dengan posisi telantang, aku menutup mataku dan mendengarkan musik dengan suara yang sangat keras, agar aku tidak mendengar tawa mereka bertiga.
Di sekolah pun aku hanya diam duduk di bangku deretan belakang. Mungkin semua siswa menganggapku aneh karena diriku bahkan sudah lupa kapan terakhir kali aku tersenyum dan bagaimana cara untuk tersenyum. Bahkan aku sangat malas memikirkan hal yang menyenangkan. Hidupku benar-benar menyedihkan.
Lagi dan lagi, hari ini kelasku kedatangan siswa baru, akhir-akhir ini banyak yang berminat dengan sekolah kami. Siswa baru dan itu orang pertama yang menarik perhatianku. Tapi seorang pengecut tidak akan menjadi seorang pemberani, benarkah?.
Tapi, mungkin Allah punya rencana lain dalam hidupku, dia, siswa baru itu masuk dalam hidupku. Hidup yang sangat mengerikan ternyata bisa dimasuki oleh dia manusia yang berhati malaikat. Tapi, sepertinya dia terlalu sempurna untukku, bahkan terlalu sempurna untuk seorang pengecut seperti diriku.
“Yus, kita jadi kan kerja tugas di rumahmu?” suara itu mengembalikanku kembali ke dunia nyata
“Hah? Rumahku?”
“Iya, kita belum pernah belajar bersama di sana. Bolehkan?”
“Tapi… A…ku…”
“Oke, kamu tunggu aku”
Ya, begitulah sikap Fajar selalu melakukan sesuatu yang tidak aku sukai tapi entah kenapa… aku… nyaman di dekatnya. Aku menyukai cara dia tersenyum, cara dia memohon kepadaku dan aku menyukainya. Apa? Apa aku tadi mengatakan bahwa aku menyukainya? Oh tidak. Ini tidak masuk akal.
“Jam berapa dia akan datang?” gumamku dalam hati, aku lupa menanyakan kepadanya. Haishh… bodooh kau Yus.
Ketika bel berbunyi aku langsung membuka pintu kamar, aku berhenti
“Apa yang baru saja aku lakukan?” aku mundur dan menatap diriku dalam cermin. Aku tersenyum? Ini benar-benar lucu, tak lama kemudian suara bel kembali berbunyi, aku segera ke luar dari kamar tapi tiba-tiba ayah menghentikanku
“Kau mau kemana?”
“Buka pintu ayah, sepertinya teman Yus datang”
“Tidak, jangan, ana sudah ada disana, siapa nama temanmu dan untuk apa dia kesini?”
“Sepertinya dia ingin mencari masalah denganku” gumaku dalam hati.
“Fajar, dia kesini untuk belajar bersama ayah”
“Sudah, kau masuk kamarku”
“Tapi ayah…” Ayah lalu mendorongku masuk dan menutupnya.
Dari dalam aku mendengar percakapan mereka
“Owh, ini Fajar ya, silahkan masuk, Yus kenapa tidak menyuruh temanmu masuk?”
Pasti saat ini ekspresi wajah Ana sangat bingung, aku sangat hafal wajahnya itu.
“Eh.. maaf ayah, silahkan masuk Fajar”
“Kau kesini untuk belajar bersama Yus?”
“Iya om”
“Hari ini kita tidak usah belajar Fajar, aku sangat bosan belajar, mending kita ngobrol saja”
Suara Ana benar-benar membuat telingaku panas,
“Haish… anak itu…”
“Hah? Kau bisa berbicara seperti itu? di luar dugaanku. Okelah”
“Kalau begitu, ayah tinggal dulu ya” jawabnya dan sepertinya dia meninggalkan mereka berdua.
Senyuman yang baru dimulai ternyata telah hancur kembali sebelum berkembang. Hidupku benar-benar menyedihkan. “Hmm… Mungkin akan lebih baik jika aku mengiriminya BBM.. eh.. tidak… aku akan mati jika itu terjadi” gumamku dalam hati.
Baiklah sepertinya aku akan mendengar mereka saja dari sini.
“Kamu, tumben tidak ingin belajar”
“Hehehe.. entahlah akhir-akhir ini aku sangat malas belajar”
“Hah?.. kau tersenyum/ ini pertama kali aku melihatmu tersenyum seperti ini”
Perkataan Fajar benar-benar membuatku tertarik untuk mengintip mereka dari celah pintu kamarku.
“Benarkah?”
“Iya. Kau sangat cantik jika seperti itu setiap hari”
“Kau sangat berbeda hari ini Yus” lanjutnya.
Aku benar-beanr tidak berniat untuk tersenyum mendengar percakapan mereka. Aku lalu menutup pintu kamarku,
“Sepertinya tidak ada manfaatnya mendengarkan pembicaraan mereka”.
Aku lalu mengambil buku geografi dan mulai mengerjakan tugas, sesekali aku mendengar tawa mereka benar-benar tidak bisa membuatku konsentrasi. Ini benar-benar menyebalkan aku lalu menyetel musik sangat keras, ini lebih baik, dibanding dengan mendengar tawa mereka.
Perasaan apa ini? Mungkinkah ini yang namanya perasaan cemburu?
Ketika kita terbang sangat tinggi dan tiba-tiba terjatuh ternyata itu sangat sakit. Hahaha… tentu saja. Ya, kembali seperti biasa, belajar untuk sendiri lagi. Hal yang aku lakukan di dalam kelas selain belajar adalah bernyanyi, bernyanyi dengan suara yang sangat kecil sambil menghadap ke luar jendela.
“Betapa aku mencintaimu” ya, lagu vagetoz ini, lagu yang setiap hari aku nyanyikan tanpa bosan.
“Pagi Yus, kamu menyanyikan lagu itu lagi?” tanyanya sambil duduk di sampingku
“lagi? Kau pernah mendengar aku bernyanyi?”
“Iya, setiap hari dengan nyanyian yang sama” jawabnya mengambil buku yang ada dalam tasnya.
Aku tak menjawabnya karena aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku lalu menyodorkan buku tugas geografiku yang telah aku kerjakan kemarin.
“Ini. Maaf, kemarin tidak kita kerjakan”
“Iya, lagian kamu menyenangkan juga ya, diajak ngobrol, walaupun sedikit terlalu…” Dia menggantung perkataannya.
“Terlalu centil” jawabku sibuk mengambil buku yang ada dalam laciku
“Heh?”
“Iya, kemarin itu terlalu centil. Maaf”
“Apa kau tidak bisa membedakanku dengan Ana? Kau bodoh atau…” Gumamku dalam hati.
“Hey, kau melamun?”. Aku tak menjawabnya, aku hanya menatapnya sejenak lalu kembali melihat ke arah jendela
“Kemarin kau sangat berbeda dengan hari ini dan hari-hari sebelumnya. Hari ini kau kembali pada dirimu seperti pertama kali aku mengenalmu. Kemarin kau seperti orang lain tapi dengan wajah yang sama. Kemarin kau sangat ceria tak ada tanda-tanda bahwa kau saat itu sedang tertekan tak seperti wajahmu saat ini. Yusriani, lebih baik kau seperti kemarin, walaupun aku menganggapmu berbeda, tapi nantinya aku akan terbiasa dengan sikap itu”. perkataan Fajar benar-benar membuatku tercengang, melihat wajahnya yang benar-benar serius mengatakan hal itu, membuat hatiku terasa sesak, apa yang aku rasakan saat ini? Ah, entahlah aku juga tidak tahu.
Dia melanjutkan perkataannya “Dan juga kau di sekolah kau sangat tidak ingin disentuh oleh laki-laki karena bukan muhrim lalu kemarin ketika kita jalan-jalan kau selalu menggandeng tanganku”
“Hah? Aku”
“Haish… Ana benar-benar tidak punya harga diri”. dia benar-benar membuatku malu saat ini.
Hari ini hari libur, hari yang ditunggu-tunggu oleh semua pelajar, aku berencana untuk mengunjungi Café tempat temanku bekerja. Ketika aku menuju ke dapur untuk mengambil air minum tiba-tiba, aku tersendak mendengar pernyataan Ana
“Apa? Jadi kau sudah pacaran dengan Fajar?”
“iya ma, seminggu yang lalu”
Seminggu yang lalu?, astaga, pantas saja sikap Fajar berbeda, ternyata dia telah jadian sama Ana. Dia benar-benar bodoh.
“Mama, ayah, aku akan ke Café”
“Café lagi? Tidak, kamu jangan pergi”
“Tapi…”
“Tok.. tok.. Assalamu alaikum”
Aku menoleh suara itu dan akan membuka pintu, tapi Ana menghentikanku
“Jangan! Itu Fajar” Jawab Ana kaget.
“Kau masuk ke kamarmu, cepat” jawab Ana lagi.
Aku terlalu lemah untuk membantah mereka, aku pun hanya menurutinya, sampai dalam kamar, aku hanya memandang diriku dalam cermin.
“Ada apa dengan dirimu Yus? Kau menangis lagi, benar-benar cengeng”. Kataku menertawakan diri sendiri. Sepertinya pilihanku saat ini adalah pergi dari kehidupan mereka. Ya, aku akan pergi, mungkin setelah aku pergi, kebahagiaan akan datang di rumah ini.
Aku lalu memasukkan bajuku ke dalam tas lalu kabur lewar jendela. Mungkin ini sangat kekanak-kanakan pada usiaku sekarang, tapi itu jalan terakhirku. Di halaman rumah, aku melihat mereka sedang tertawa dan sepertinya Ana melihatku, aku hanya melambaikan tangan padanya lalu tersenyum “Selamat tinggal kembarku” kataku menggerakkan bibir tanpa suara.
“Dilihat dari tasmu, sepertinya kau kabur dari rumah” kata temanku Sindi
“Bingo. Kau benar sekali. Saat ini aku butuh pekerjaan”
“Pekerjaan? Apakah kau bisa bermain gitar?”
“Tentu, kenapa?”
“Bagus, kau bisa bekerja di sini, Manajerku saat ini sedang mencari orang yang bisa bernyanyi di atas sana” jawabnya sambil menunjuk panggung kecil yang masih kosong.
“Benarkah?”
“Iya, aku akan mengatakannya pada Manajer dulu”
“Baiklah aku tunggu”
Setelah Sindi pergi, aku lalu membuka BBMku dan mengirimi Fajar untaian kata, aku akan menerima resikonya, mungkin Ana telah berbohong lagi kepada Fajar bahwa BBMnya dia ganti karena akhir-akhir ini dia tidak mengirimiku BBM lagi.
“Kau bodoh”
“Kepergian memang menyakitkan, tapi terkadang harus dilakukan untuk membiarkan kebahagiaan datang. Sayounara?”
Ya, sebuah kata perpisahan yang sangat bagus, tak lupa aku mengirimi Ana juga. Terserah peduli atau tidak, tidak jadi masalah buatku lagi.
“Yus, kau diterima, sekarang kau boleh tampil”
“Hah? Sekarang dengan pakaian seperti ini?”
“Tidak apa-apa, ayo naik!”
Aku pun perlahan menuju panggung kecil itu dan memperkenalkan diri. ketika aku akan memetik gitar, mataku terbelalak menatap 2 insan yang baru saja datang “Fajar dan Ana? Kenapa mereka kesini?” Aku lalu mencari Sindi dan member kode agar dia menoleh ke arah pintu. Diapun menurut dan tidak kalah kagetnya. Aku melihat dia mengetik sesuatu di layar ponselnya tak lama kemudian ponselku berbunyi “Abaikan mereka. Ini kesempatanmu untuk bekerja disini, jangan sia-siakan”
“Baiklah, perkataan Sindi memang benar”.
Aku lalu mulai memainkan gitarku dan sepertinya Ana melihatku, matanya terbelalak, aku hanya balas menatapnya, dia langsung memandang Fajar yang sedang membelakangiku, dia berusaha basa basi sepertinya, agar Fajar tidak menoleh kepadaku. Aku pun mulai menyanyikan sebuah lagu “izinkan aku mencintaimu” setelah itu lagu favoritku “Betapa aku mencintaimu”. Sebenarnya ada sedikit perasaan atau mungkin sedikit harapan yaitu Fajar mengenali suaraku. Aku pun mulai menyanyikan lagu itu dengan sangat menghayati setiap lariknya. Sampai aku membuka mataku kembali ternyata Fajar telah menihatku.
“Apa yang harus aku lakukan?”
“Santai saja Yus, semuanya akan baik-baik saja” gumamku.
Aku lalu terun dari panggung dan berjalan ke mejaku sebelumnya dan mengambil tasku lalu berpamitan kepada Sindi “Terima kasih ya, aku pergi dulu, sepertinya atmosfer disini tidak enak”
“Hmm.. hati-hati”. Sempat aku melirik Ana dan Fajar dan ternyata dia masih memandangiku, aku pun mempercepat langkahku untuk ke luar dari atmosfer yang menyeramkan ini, tetapi setelah aku ke luar, tak jauh dari tempatku berdiri, Fajar memanggilku “Hey…”
“Astaga, apa yang harus aku lakukan?”. Akupun menoleh dan menunjuk diriku sendiri
“Aku?”
“Fajar dan Ana lalu mendekatiku.
“Kamu siapa?”
“Aku?”
“Iya”
“Aku siapa?” tanyaku pada Ana. Ana kaget, dia tidak tahu apa yang harus dia katakan saat ini. Dia masih terdiam sampai dia tersenyum lega sambil melihat di belakangku, aku pun menoleh ke belakang dan langsung mendapat tamparan pertama dari seorang ibu. Ini benar-benar tamparan pertama yang membuat sudut bibirku mengeluarkan darah.
“Ma…ma”
“Kamu benar-benar anak tak berguna”
Aku hanya dia mendengar omelan mamaku itu, aku terlalu malu untuk menjawabnya. Fajar menyaksikan semuanya, aku terlalu malu untuk menegakkan kepalaku seperti biasanya, yang aku inginkan saat ini adalah pergi dari mereka semua “maaf” hanya kata itu yang ada dalam fikiranku, aku pun berlari sejauh mungkin dari mereka semua.
“Hey, kau mau kemana?” teriak mamaku. Akhirnya Fajar mengerti semuanya.
“Yusriani, tunggu” teriak Fajar. Aku tidak menggubris teriakannya. Aku hanya berlari dan menjauh dari keadaan ini.
“Yusriani, tunggu” teriak Fajar dan akan mengejar Yus.
“Fajar, kau mau kemana?” Tanya Ana sambil memegang lengan Fajar.
“Pembohong, lepaskan” teriak Fajar lalu melepaskan pegangan Ana dengan keras.
Aku terus berlari sampai tak memperhatikan jalan hingga aku terjatuh karena tersandung akar pohon.
“Yus, kau tidak apa-apa?”
“Hiks… hiks… hiks…”
“Maafkan aku”
“Maaf”. Ya, Fajar saat ini sedang membersihkan darah yang sudah mongering di sudut bibirku. Sebenarnya aku sangat keberatan, tapi itulah Fajar.
“Aku bodoh kan?” tanyanya yang masih serius mengobati lukaku
“Hah?”
“Ya, bodoh karena tidak bisa membedakanmu”
“Ya, kau benar-benar bodoh. Bahkan sangat bodoh”
“Hmm.. Maafkan aku, kalau begitu kau diamlah dulu, aku sulit mengobati lukamu jika ka uterus berceloteh” aku tersenyum mendengar perkataannya, ya, senyum kedua kalinya karena Fajar.
“Baiklah”
Saat ini Fajar sangat serius mengobati lukaku, aku pun sangat serius mengamati wajahnya yang tidak jauh dari wajahku. Walaupun aku tahu bahwa ini dosa, tapi godaan syaitan benar-benar membuatku tak sadar Astagfirullahhal adzim. Maafkan aku ya Allah.
“Ada apa? Kenapa menatapku seperti itu” tanyanya ketika dia telah selesai mengobati lukaku.
“Tidak ada, hanya saja…” tiba-tiba tanpa sadar tanganku bergerak sendiri dan merapikan rambutnya yang sedikit acak-acakan, ini benar-benar diluar pikiranku.
Fajri pun sedikit terkejut dengan perlakuanku, tiba-tiba jiwaku kembali pada ragaku, aku lalu melepaskan tanganku dari rambutnya.
“Astagfirullah, maaf” kataku padanya dengan wajah merah padam.
“Haishh.. memalukan” gumamku dalam hati.
“Hahaha… wajahmu kenapa?” Tanya berusaha mengembalikan suasana yang tegang.
“Haishh… Fajar”
Kebahagiaan bisa saja akan datang ketika kita mencari kondisi dan situasi yang baru, bisa dikatakan berhijrah, tapi ya, hanya Allah yang akan menentukannya. Terkadang ketika seseorang masuk dalam hidup kita, kebahagiaan pun akan menyusulnya, tapi jika Allah yang menghendakinya.
Terkadang Allah tidak memberikan apa yang kita inginkan karena Dia tahu ada hal yang lebih baik untuk kita.
END

dia yang terluka


“Apa? Kamu gebetan sama azkar? Gilaa kamu ituu pacarnyaa gilang sya” mia kaget sekali dengan ceritaku. Padahal aku biasa biasa saja “oh ayolah mi, aku juga butuh temen jalan disini. Lagian aku pastiin deh gilang nggak bakal tau soal ini. Azkar juga tau kok aku pacarnya gilang” mia masih saja tak percaya “kalian itu emang gila ya.. Kalian backstreet? Kamu nyakitin perasaan gilang tau” kata mia. “Yaa aku cuma kaya temenan aja sama azkar, aku tetep cintanya sama gilang kok” tambahku.
“Tuh kan.. Kamu berarti cuma mainin perasaan azkar dong? Juga nyakitin gilang. Ah terserah deh” mia jadi kesal sendiri. “Ayolah kaya gak tau aku aja.. Laagian azkar kan playboy. Dia gak sama aku aja..” aku tersenyum pada mia, dan pergi berlalu.
“Sayang semangat ya sekolahnya,” pesan dari gilang. Yaa kami berdua memang LDR aku sekarang kelas tiga SMA dan gilang melanjutkan studinya di yogyakarta. Hubungan kami sudah setahun lebih, dan aku rasa aku mulai bosan. Bagaimana tidak? Aku selalu kesepian. Apalagi dia selalu sibuk. Pesan singkat seperti tadi saja tak setiap hari aku dapatkan. Jujur aku bosan, tapi aku mencintainya.
“Ciee pacarnya aku ngelamun aja nih” azkar mengejutkanku “apa sih, mana pacar kamu? Bukannya kamu jomblo ya ha ha ha” aku tertawa. “Dasar,” azkar mencibir “iya sayangku, traktir bakso ya” aku tersenyum manis sambil mencubit pipinya “aw, dasar bersikap manis kalo ada maunya” kata azkar. “Oh ya udah, aku pergi aja ya.” aku bersiap bangkit meninggalkan meja kantin “eh eh aduh neng cantik jangan marah dong, nanti tambah cantik” rayu azkar, dan aku luluh. “iyaa aku traktir bakso, biar tambah gendut ya” azkar mengelus puncak kepalaku. Seperti adik yang penurut aku pun duduk.
Beberapa menit kemudian dua mangkok bakso dan dua gelas es teh datang ke meja kami.
Kami segera menyantapnya sambil ngobrol ngobrol..
“Rasya.. Ngomong ngomong, gimana hubungan kamu sama gilang?” tanya azkar -uhuk- aku hampir saja tersedak. “Emmm.. Ya gitu deh” jawabku hati hati. Aku gak mau juga kalau melukai hatinya azkar. “Oh gitu ya..” balas azkar. “Emm kamu juga gimana? Sama adik kelas?” aku jadi ingin menanyakan itu juga “biasa aja, aku belum ada apa apa sama dia. Aku sih berharapnya ada apa apa sama kamu” kata azkar, ya aku menganggapnya bercanda. Tapi? Lihat azkar sedang menatap mataku dalam dan tersenyum manis. Siapa sih yang nggak meleleh. Aku cuma bisa senyum senyum sambil ngaduk kuah bakso.
“Miaaaa, gilang kok nggak ada kabar sih dari kemarin” kataku “loh, siapa tau dia sibuk” jawab mia.
Gilang selalu saja sibuk, aku merindukannya. Aku kangen waktu dulu saat masih bisa sama sama dia. Makan bareng, nonton bareng. aku kangen banget sama gilang. Andai aja gilang itu kaya azkar, walaupun dia sibuk tetep aja ngasih kabar ke aku. Yaa walaupun dia gak cuma ngasih kabar ke aku. Tapi, aku cuma pengen setidaknya gilang itu jangan ngilang kaya gini.
“aku cuma bisa mendoakan kebahagiaan kamu, walaupun itu bukan sama aku.”
Aku baru saja membuka akun fb azkar dan aku menemukan status itu. Aku merasa status itu ditujukan padaku, entah kenapa. Lalu statusnya yang lalu
“Yang suka marah marah, dikasih bakso langsung diem. Cantik deh kalo marah, sayang udah ada yang punya. Hahaha”
Aku merasa ngilu sendiri membaca status statusnya. Apa iya azkar benar-benar mencintai aku? Bukannya dia udah sama adik kelas.
“Haloo?” aku menelpon azkar
“Iyaa haloo, selamat malam rasya” balasnya
“Iya malam azkar, lagi apa?”
“Lagi duduk..”
“Sama siapaa?”
“Berharapnya sih sama kamu..”
“Ya udah sini raa di samping aku kosong”
“Iya tapi hatinya nggak kosong. Hahaha”
“Ah azkar apaan sih, kaya hati kamu kosong aja”
“Kalo kamu mau, aku bisa aja ngosongin hati aku. Khusus buat kamu. Yang penting jangan bikin hati aku lebur”
“emmm…”
“Pedes ya? Hem hem apaan sih.”
“Hehehe enggak kok,”
“Udah malam nggak ngantuk?”
“Udahh.. Kamu nggak emangnya?”
“Ya ngantuk sih. Tapi kamu tidur dulu aja, selamat malam ya rasya sayang. semoga mimpiin aku hehe”
“Iya selamat malam juga azkar sayang, jangan tidur malem malem nanti sakit.”
Aku menutup teleponku.
Aku tatap ponselku, azkar. Jujur saja aku sayang dia. Tapi gak kaya aku sayang ke gilang, ibaratnya aku cuma anggap azkar pacar bohongan aja. Aku jadi takut nyakiti dia padahal aku nggak niat gitu.
Aku sama gilang masih tetap sepasang kekasih, dan aku sampai sekarang juga masih dekat dengan azkar. Sepertinya aku tambah nyaman sama azkar begitu pula sebaliknya. Tapi tetap saja aku udah punya gilang. Dan aku nggak mungkin nerima azkar..
“Aku sayang kamu sya, sayang banget..” ucap azkar sore itu. Kami menatap danau berdua. “Aku juga” balasku. Kami masih sama menatap ke depan menatap air jernih danau buatan itu. “Tapi kamu mencintai dia” ucap azkar lirih.. Aku hanya diam. “azkar,” aku genggam tangannya yang ada di sampingku.. Kami tak saling pandang. Tatapannya tetap pada danau “azkar.. Aku sayang kamu, aku nggak mau kehilangan kamu, aku nyaman deket sama kamu. Tapi, tapi untuk lebih dari sekedar teman? Aku.. aku ngga tau” kataku. Dia hanya mengangguk lalu tersenyum, detik berikutnya dia menatapku. “Aku mencintaimu, bahkan ketika kamu sudah dimiliki orang lain. Aku selalu menunggu.. Takdir yang akan membuat kita bersatu. Tapi nggak ada kan? Kamu nggak munggkin mencintaiku. Aku tau, orang yang selama ini kamu perjuangkan ya dia bukan aku. Sya.. Aku sayang kamu.” azkar mengelus pipiku pelan. Aku mulai terisak, “kamu nggak perlu menangis. Kamu harusnya tetap tersenyum, kamu manis sekali kalau senyum. Aku nggak papa kok.. Asal kita masih bisa seperti ini aku bahagia.” ucapnya. Tak tahan aku memeluk azkar.
Aku rasakan kehangatannya.. Aku rasakan cintanyaa yang besar untukku. “Andai aja aku datang sebelum gilang” gumam azkar sambil mengelus rambutku “aku nggak mau kamu pergi, aku sayang kamu..” kataku.
Azkar pun mengangguk. “Ya udah dong jangan nangis kaya bayi aja..” Azkar mengangkat wajahku, dan menghapus airmata disana.
“Percayalah, tuhan itu baik. Dan punya rencana terbaik” dia tersenyumm.. Dan aku tau dia terluka.
Setelah sore itu aku rasakan azkar perlahan mulai jauh. Dan aku dengar dengar dia jadian dengan adik kelasku, aku bahagia mendengarnya.
Tapi kalo boleh jujur ada rasa aneh yang berdesir di hatiku, ah apa aku cemburu? Mana mungkin aku cemburuu. Tapi memang kenyataannya begitu, yang dulunya dia selalu menemaniku sekarang dia menenemani kekasihnya. Azkar jadi jarang sms, jadi jarang telepon. Aku.. Merindukanya.
“Haloo..” sapaku di telepon
“Halo, eh rasya tumben telepon” kata azkar
“Wehh sombong banget kamu sekarang”
“Apaan sih, biasa aja kok”
“Dasar, giliran udah punya pacar aku dilupain..”
“Yaa daripada aku nunggu orang yang udah punya pacar mending aku punya pacar” sakit rasanya mendengar itu.. aku diam.
“Emmm.. Iya ya” balasku
“Kamu tau nggak sya? Dia itu mirip sama kamu. Aku jadi nyaman sama dia”
“Oh apa iya?”
“Iya dia asik kaya kamu.. ” aku cuma jawab iya iya saja jujur aku sakit, siapaa sih cewek yang gak sakit hati kalau dimirip miripin? Nggak ada kan..
Status facebooknya pun sudah tak lagi untukku. Aku baru menyadari kalau aku pernah memiliki cinta untuk azkar.. Tapi sekarang untuk apa?
Sekarang aku hanya bisa mendoakan kebahagiaannya. Dia yang lebih terluka karena aku, dia yang sungguh menahan semua sakitnya selama ini. Terimakasih azkar sudah berikan bahagia untukku.. Maafkan aku untuk lukamu itu. I miss you azkara syakif putra.

cinta triple a

Angin berhembus begitu lembut. Mengibarkan ujung jilbab yang membalut kepalaku. Di pinggiran pantai mataku menerawang jauh. Mengingat peristiwa 5 tahun lalu.
“Jadi kamu mau nikah?”, tanyaku pada Aris, sahabatku.
Aris mengangguk. Sambil menyerahkan undangan pernikahannya.
“Siapa gadisnya?”, tanyaku lagi.
“Bukan siapa-siapa. Dia cuma gadis biasa. Temen kuliah adikku”, jelas Aris.
Aku terdiam. Entah apa yang kurasakan saat itu. Seperti tak rela saja sahabatku itu menikah.
“Jangan lupa dateng ya… Ajak suami kamu. Kalo perlu si kecil juga diajak. Aku pamit pulang dulu”, kata Aris seraya bangkit dari duduknya.
Aku hanya mengangguk.
Hari itu datang juga. Hari dimana Aris melangsungkan pernikahannya. Suamiku… Oiya, sepertinya aku perlu menceritakan sedikit tentangnya. Dia seorang manager di salah satu perusahaan swasta. Awalnya dia sangat perhatian padaku. Sangat menyayangiku. Di awal pernikahan tak pernah sekalipun dia berkata kasar padaku.
Tapi 2 tahun kemudian semuanya berubah. Saat itu aku sedang mengandung buah hati kami yang pertama. Namanya orang hamil inginnya diperhatikan dan dimanja. Aku ingat betul peristiwa itu. Aku ingin sekali tidur di pangkuan dia. Dengan diusap-usap kepalaku. Tapi tiba-tiba dia marah. Dia bilang aku seperti anak kecil. Aku langsung membalas amarahnya. Maklum orang hamil. Emosinya sangat labil. Aku berkata tak karuan. Menuduh dia tak perhatian, punya selingkuhan, dan lain sebagainya. Hingga akhirnya sebuah tamparan keras mendarat di pipiku hingga sudut bibirku mengeluarkan darah. Aku tak pernah melupakan kejadian itu.
Aris adalah orang pertama yang aku hubungi. Aku sama sekali tak mempedulikan kondisiku yang sedang hamil. Kutinggalkan rumah dan meminta Aris untuk menjemputku. Dan benar saja. Aris datang tak lama setelah aku meneleponnya. Dia benar-benar sahabat terbaikku. Hadir disaat kubutuh.
Yah… Itulah sekilas tentang rumah tanggaku. Sejak saat itu aku sudah menganggap suamiku bukanlah orang yang pantas untuk kuberi cinta. Selama ini kita tinggal seatap. Tapi sama sekali hubungan kami bukan seperti layaknya suami istri. Kami hanya terlihat mesra ketika sedang di depan keluarga. Terutama di depan Angel. Putri kami. Malah akhir-akhir ini dia jarang sekali pulang ke rumah. Aku dengar dari teman sekantornya dia menyewa sebuah rumah tak jauh dari tempat kerjanya. Dan temannya pernah memergoki dia bersama wanita lain.
Hh… Aku benar-benar tak bisa berpikir jernih saat ini. Aku harus hadir sendiri di pesta pernikahan sahabatku. Dan perasaan ini… Ada apa sebenarnya? Kenapa aku merasa tidak siap menerima kenyataan bahwa Aris akan menikah?
“Lisa?”, aku menoleh ke asal suara. Seorang wanita berhijab menghampiriku.
“Nana? Kamu Nana kan?”, tanyaku seraya tak percaya.
“Iya! Ini aku Nana. Temen SMA kamu”
“Ya ampun… Kamu berubah sekarang. Aku nyaris nggak ngenalin kamu. Sejak kapan pakai hijab?”, tanyaku terheran-heran.
“Udah hampir setahun. Suamiku yang menuntunku untuk berubah”
“Oh ya? Beruntung sekali kamu dapet suami yang bisa bikin hidup kamu lebih baik. Udah nggak dugem lagi dong ya?”, komentarku yang membuat tawa kami meledak.
“Suami kamu mana? Aku dengar kamu udah nikah dan punya anak ya?”, tanya Nana.
Aku mengangguk. “Suamiku lagi dinas di luar kota. Kalo si kecil kebetulan tinggal bersama mertuaku”
“Ow… Ya udah kalo gitu aku tinggal ke temen-temen yang lain. Kamu pasti mau ke pengantinnya kan?”, kata Nana yang kuiyakan dengan anggukan.
Aku melangkahkan kakiku menuju sepasang kekasih bergaun pengantin warna putih.
“Lisa… Akhirnya kamu dateng juga”, ucap Aris sambil menyambutku.
Aku langsung mengembangkan senyum termanisku. Berusaha mengusir perasaan yang berkecamuk di hatiku.
“Mana mungkin aku melewatkan kesempatan untuk menyaksikan sahabatku memakai baju pengantin. Apalagi baju pengantin warna putih. Warna yang paling kamu benci. Pasti kamu nggak nyaman deh pake baju itu. Iya kan?”, godaku yang membuat tertawa sang putri dalam pesta itu.
“Sialan! Kalo dateng cuma buat ngeledekin mending pulang aja deh! Lagian biar nasi gorengnya nggak habis kamu makan!”, balas Aris.
Kami tertawa.
“Oiya, kenalin ini Tiara. Sekarang dia adalah istri sahku”, kata Aris memperkenalkan.
Aku mengulurkan tanganku. “Lisa”
“Tiara. Terima kasih udah hadir”, kata gadis itu lembut.
Aku tersenyum. “Oia, Ris. Mama Rita mana?”, tanyaku menanyakan ibunya. Aku sudah terbiasa memanggil Mama pada tante Rita. Dia memang sudah kuanggap seperti mamaku.
“Oh bentar! Biar aku panggil!”, Aris berlalu meninggalkan aku dan Tiara.
Aku menatapnya dan kembali berbincang dengan sang putri. Perasaan itu kembali berkecamuk.
“Aku banyak mendengar cerita tentang kamu dari Aris”, ucap Tiara mengawali obrolan.
“Oh ya? Cerita apa? Mudah-mudahan bukan hal buruk yang dia ceritain ke kamu”
Tiara tersenyum. Senyumnya manis sekali. Teduh dan nyaman rasanya.
“Terima kasih udah jadi teman berbaginya selama ini. Aku tau, aku nggak begitu mengenal Aris seperti halnya kamu mengenal dia. Tapi aku akan berusaha menjadi istri yang baik untuknya”
Aku begitu terkejut mendengar ucapan Tiara. ‘Apa maksudnya?’ pikirku dalam hati.
“Kamu jangan berlebihan. Kami emang bersahabat. Tapi sejak aku nikah, hubungan kami udah nggak sedeket dulu. Cuma emang nggak bisa dipungkiri. Dia adalah orang pertama yang akan aku hubungi jika aku ada masalah dengan suamiku. Makanya aku ngerasa sangat kehilangan ketika tau dia mau nikah”, tuturku yang membuat Tiara mengernyitkan dahi.
Aku langsung sadar akan ucapanku. “Emm… Maksudku aku nggak tau mesti nyeritain masalahku ke siapa lagi kalo dia nikah. Aku cuma percaya sama dia”, lanjutku berusaha mencegah kesalahpahaman.
Aris datang dengan menggandeng Mamanya.
“Ini dia Mamaku tercinta. Lihat siapa yang hadir…”, kata Aris.
“Alissa…”, jerit Mama Rita sambil berlari memelukku.
“Mama Rita”, kataku membalas pelukannya.
“Kenapa kamu nggak pernah dateng lagi ke rumah?”, tanya Mama Rita sambil mengusap-usap kepalaku seolah aku adalah anaknya yang lama tak pulang.
“Iya Ma, sekarang Lisa ada usaha kecil-kecilan di rumah. Jadi nggak bisa sering-sering ke luar”, jawabku.
Kami pun larut dalam obrolan. Setidaknya aku bisa melupakan sedikit perasaan aneh yang dari tadi membuatku merasa tak nyaman.
“Ndre, kita mesti bicara!”, kataku pada Andre suamiku.
“Bicara apa lagi? Bukannya kamu terlalu sering bicara!”, ucapnya dengan nada yang tidak enak didengar.
“Maksud kamu apa? Selama ini aku nggak pernah berkomentar apa-apa tentang sikap kamu. Nggak pernah pulang, tiba-tiba nyewa rumah di dekat kantor, hh… kamu punya selingkuhan?”, tanyaku tiba-tiba.
“Kalo iya kenapa?”
“Jadi bener kamu tinggal di rumah kontrakan dengan perempuan pel*cur itu!”, kataku dengan nada marah.
“Tutup mulut kamu! Dia bukan pel*cur!”
“Ow… Kamu udah nikah sama dia?”
Andre diam. Kemudian melangkah pergi masuk ke kamar. Aku mengikutinya.
“Ndre! Jadi bener kalo selama ini kamu udah nikah lagi? Kamu jarang pulang bukan karena tugas kantor tapi karena harus berbagi dengan istri yang lain? Kamu jahat, Ndre! Kenapa kamu tega ngelakuin ini sama aku? Apa salahku, Ndre? Apa salahku?”
Plakkk!!! Tamparan itu lagi-lagi mendarat di pipiku.
“Kamu pengen tau salah kamu apa? Kamu nggak pernah cinta sama aku! Aku nggak pernah ada di hati kamu kan, Lis? Bukan aku yang selama ini kamu harepin memeluk dan mencumbu kamu setiap waktu. Bukan aku!”
“Apa maksud kamu?”, aku terkejut mendengar penuturan Andre.
“Kamu yang pel*cur! Kamu yang tega-teganya memikirkan orang lain untuk menyentuh kamu, padahal kamu udah punya suami, bahkan anak! Kamu yang jahat, Lis! Menipu perasaanku dengan mau menjadi istriku. Kamu yang selingkuh!”, maki Andre semakin menjadi-jadi. Dia memecahkan barang-barang yang ada di kamar kami.
Aku benar-benar tidak mengerti apa yang dikatakan Andre sampai aku melihat buku harianku di tangan Andre.
“Ini adalah bukti perselingkuhan kamu!”, kata Andre sambil melemparkan buku harian bersampul coklat ke arahku.
Aku tau sekarang. Andre berubah sejak dia membaca tulisanku. Dan isinya bukan tentang perasaanku padanya. Tapi pada Aris, sahabatku. Oh Tuhan… Betapa jahatnya aku. Tanpa sadar aku telah melukai suamiku. Orang yang dengan tulus mencintaiku.
Aku duduk di pinggir tempat tidur sambil menangis terisak. Rasa sakit akibat tamparan Andre tak begitu terasa dibanding dengan luka hatiku saat ini. Ternyata selama ini Andre berubah karena ulahku sendiri. Oh… Apa yang harus aku lakukan sekarang?
Andre duduk di sebelahku. Amarahnya sudah reda. Kata-katanya kembali manis. Seolah hal ini tak pernah terjadi.
“Aku tau bukan aku orang yang kamu cintai. Aku pikir kamu bisa bener-bener menjadi milikku setelah ada Angel. Tapi ternyata aku salah. Cinta itu hanya untuk Aris. Bukan Andre. Inisial A yang kamu tulis di buku itu sama sekali bukan untuk aku. Maaf jika aku harus mencari orang lain untuk mengisi kekosongan hatiku. Tapi Dina bukan pel*cur. Dia wanita yang baik. Yang bisa mencintaiku dengan tulus…”, ucap Andre lirih yang kemudian melangkahkan kaki meninggalkanku.
Aku semakin menangis. Meratapi betapa bodohnya aku. Sekarang aku bukan hanya kehilangan orang yang benar-benar aku cintai, tapi juga orang yang selama ini tulus mencintaiku. Aku terus menangis, menangis dan menangis.
Semalaman aku berjalan tak tentu arah. Berusaha menghilangkan rasa sesal yang menyesak dada. Tapi semuanya seakan percuma. Kebodohonku terus membayang. Aku semakin tak sanggup menjalani kehidupan ini sendiri.
Aku sampai di pantai. Tempat dimana aku biasa melepas semua masalah. Mataku terasa sembab karena tangis semalam. Sebenarnya ingin kulanjutkan tangis itu. Tapi air mataku seolah kering. Aku teringat Angel. Aku berpikir untuk menemuinya. Namun tiba-tiba langkahku terhenti. Seorang laki-laki bertubuh tinggi menghampiriku.
“Lisa! Kamu kemana aja sih? Aku nyariin kamu semalaman tau nggak?”, kata laki-laki itu.
“Aris? Nga…ngapain kamu disini? Bukannya kamu harus…”
“Semalem Andre nelepon aku. Dia bilang kamu pergi dari rumah karena bertengkar sama dia. Kamu nggak papa?”, tanya Aris sambil memegang kedua lenganku.
“Aku nggak papa. Tapi kenapa kamu nyariin aku. Bukannya kamu mesti berangkat bulan madu? Kamu kan baru aja nikah…”, tuturku heran.
Aris tersenyum. “Aku juga nggak tau kenapa tiba-tiba aku nyariin kamu. Sampai aku harus bertengkar dengan Tiara di malam pengantin kami. Ada apa sih, Lis? Kenapa kamu tengkar sama Andre lagi? Dan kenapa Andre malah nyuruh aku buat nyari kamu?”
Air mataku kembali meleleh. “Andre… Andre udah nikah lagi, Ris!”, tuturku sambil memeluk sahabatku itu.
“Apa? Andre nikah lagi? Kurang ajar! Teganya dia nglakuin ini sama kamu! Dasar laki-laki brengsek! Aku harus nemuin dia!”, kata Aris emosi seraya melepaskan pelukanku.
“Ris, tunggu! Ini bukan salah Andre. Tapi… Aku yang salah. Aku yang udah jahat sama dia. Aku yang udah nyakitin dia, Ris…”
“Apa maksud kamu?”, tanya Aris penasaran.
“Semua ini karena aku nggak pernah mencintai dia”
Aris semakin penasaran. Dia melangkahkan kakinya mendekatiku. “Kamu nggak cinta sama Andre… Kamu bohong kan? Mana mungkin kamu nggak mencintai dia. Kamu istrinya. Dan kalian udah punya Angel”
“Kami emang nikah. Tapi aku nggak pernah cinta sama dia”
“Lalu kenapa kamu nikah sama dia?”, kata Aris dengan nada emosi.
“Karena orang yang aku cintai ternyata sama sekali nggak cinta sama aku”
“Siapa?”, tanya Aris melemah.
Aku terisak. Mungkin saatnya aku mengatakan perasaanku pada Aris. Meski sangat terlambat, tapi setidaknya aku nggak akan terbebani.
“Kamu. Kamu orang yang selama ini aku cintai, Ris…”
Aris terkejut. Ekspresinya lemah seakan tak percaya dengan penuturanku.
“Nggak… Nggak mungkin aku orangnya!”, gumam Aris. “Kamu pasti becanda. Iya kan?”
“Aku serius, Ris! Aku emang cinta sama kamu. Dari dulu…”
“Lalu kenapa kamu memilih Andre?”
“Itu karena aku udah putus asa dengan perasaanku. Sebenernya aku jadian sama Andre cuma karena pengen tau gimana perasaan kamu ke aku. Aku kira kamu juga cinta sama aku. Aku berusaha bikin kamu cemburu. Tapi ternyata aku salah. Kamu nggak pernah suka sama aku. Apalagi cinta. Perasaan kamu ke aku hanya sebatas sahabat. Nggak lebih. Dan saat itu Andre melamarku. Aku nggak punya cukup alasan untuk menolak dia. Akhirnya aku terima untuk nikah sama dia. Aku kira dengan nikah sama dia, aku bisa ngelupain kamu. Tapi ternyata… Aku malah semakin kepikiran kamu. Aku selalu menuliskan semua perasaanku di buku. Hingga Andre mengetahui semuanya… Aku emang jahat! Udah tau cintaku bertepuk sebelah tangan, tapi masih aja aku terus terlarut dalam cinta itu…”
Aris terdiam. Matanya berkaca-kaca mendengarkan ceritaku. Kemudian dia memelukku.
Aku terkejut kenapa Aris tiba-tiba memelukku? Dia membenamkan mukanya ke pundakku. Terisak. Aris menangis?
“Kamu kenapa, Ris?” tanyaku heran.
“Maafin aku, Lis! Maafin aku! Harusnya aku buang gengsi aku saat itu. Harusnya aku peka dengan perasaan kamu. Harusnya aku sampaikan ke kamu kalo sebenernya aku juga mencintai kamu!”
Bagai disambar petir disiang hari. Aku benar-benar tak percaya dengan apa yang diucapkan Aris. Dia mencintaiku. Yah! Ternyata selama ini cintaku tak bertepuk sebelah tangan. Aris juga mencintaiku. Tapi tak ada gunanya sekarang. Dia telah menikah. Dan Tiara adalah wanita yang pantas untuk mendapatkan cinta Aris.
Aku melepaskan dekapan Aris. Berdiri dan meninggalkan dia. Namun tiba-tiba dia menarik tanganku.
“Jika kamu mau, aku bisa ceraikan Tiara. Kemudian kita menikah dan pergi jauh dari sini. Kita mulai hidup baru bersama-sama”, tutur Aris sambil menggenggam kedua tanganku.
Aku tersenyum. “Nggak, Ris… Aku nggak mau karena keegoisanku, aku melukai wanita lain.. Tiara gadis yang baik. Dia lebih pantas untuk kamu cintai. Hubungan kita bukanlah hal yang penting untuk dipersatukan”, kataku sambil berganti menggenggam tangan Aris.
“Pulanglah, Ris! Tiara pasti nungguin kamu. Jangan kecewakan dia, sepertihalnya aku mengecewakan Andre. Jangan ada lagi orang yang akan terluka karena cinta kita. Biarlah cinta ini jadi debu yang suatu saat akan terbang bersama angin. Aku bahagia bisa mencintai kamu. Tapi aku lebih bahagia melepas kamu bersama orang lain”, tuturku tegar.
“Tapi, Lis… Gimana sama kamu? Andre udah ninggalin kamu…”
“Aku percaya Tuhan punya rencana yang indah untuk hidupku. Aku bukan hanya kehilangan cinta kamu. Tapi juga cinta Andre. Tapi aku masih punya Angel. Malaikat kecilku… “
Kini 5 tahun telah berlalu. Kepiluan itu telah terkubur dalam oleh waktu. Aku kembali menjalani takdir Tuhan yang memang sudah terancang untuk kehidupanku.
“Mama… Makan yuk! Angel laper nih!”, kata gadis mungil bermata bulat. Angel. Putriku.
“Iya, papa juga laper! Pulang yuk!”
“Andre? Kok tau kalo kita disini?”, tanyaku sambil tersenyum.
“Tadi aku habis meeting sama klien di deket sini. Aku lihat mobil kamu. Ternyata bener, malaikat kecilnya papa lagi main-main sama bidadari papa”, kata Andre sambil mencubit hidungku.
Aku tersenyum.
“Papa… Mama… Ayo pulang… Angel laper nih!”, kata Angel tak sabar.
“Iya-iya sayang. Ayo kita pulang! Kita makan masakan mama yang paling enak di dunia”, kata Andre sambil menggandeng tangan Angel.
Aku mengikuti mereka di belakang.
Yah! Itulah rencana Tuhan. Setahun setelah peristiwa memilukan itu seorang wanita bernama Dina datang menemuiku. Dia menceritakan kalau selama menikah dengan Andre, dia sama sekali belum pernah mendapatkan haknya sebagai seorang istri. Andre tak pernah menyentuhnya. Itu karena Andre begitu mencintaiku. Dina pun memutuskan untuk bercerai dengan Andre dan meminta Andre untuk kembali padaku.
Kami pun rujuk dan membina rumah tangga kami yang pernah hancur. Aku memutuskan untuk menutup usahaku dan menjadi ibu rumah tangga. Membesarkan Angel dan melayani suamiku. Hingga akhirnya Tuhan memberikan hidayahNya padaku. Aku bertemu Nana, teman lamaku. Dia yang mengenalkanku pada hijab dan membuatku memutuskan untuk mengenakannya.
Kini aku mulai menemukan cinta sejatiku. Cinta yang selama ini tak kusadari. Cinta Triple A. Alissa – Angel – Andre. Merekalah cintaku yang sebenarnya.
TAMAT

cafe biru muda

Mereka duduk berdampingan, sementara di seberang meja seorang gadis berambut sebahu tertunduk resah. Meja bernomor 18 itu diliputi ketegangan. Bahkan tidak ada seorang wetress pun yang berani mendekat padahal meja mereka masih kosong.
“Coba ulangi lagi apa yang kau katakan barusan” katanya dengan nada tinggi yang jelas-jelas ditahan setengah mati.
Laki-laki di sampingnya mengeraskan rahang. “Kali ini tolong dengarkan baik-baik.”
Tak hanya meja bernomor 18, tapi seluruh ruangan cafe bernuansa biru muda itu ikut menegang. Hujan rintik-rintik di luar sana semakin deras seiring melambatnya jarum jam. Bersamaan dengan guntur yang menggelegar, laki-laki itu kembali mengucapkan kalimat mematikannya.
“Aku akan menikahi adikmu, dia hamil. Karena itu sebaiknya kita putus.”
Bak disambar petir, ia merasakan telinganya berdenging ngilu. Seluruh ruang cafe berputar beberapa kali hingga ia memutuskan untuk berusaha berdiri. Dengan langkah gontai, ditinggalkannya pacar pengkhianat itu sesegera mungkin. Saat melangkah pergi ia masih bisa mendengar jeritan maaf sang adik. Namun tak ada yang bisa mengobati luka hatinya saat ini. Gadis berambut panjang itu terus melangkah walaupun dunia berputar semakin cepat dan cepat. Hingga akhirnya ia tumbang di bawah rinai hujan. Kehilangan kesadaran, atau lebih baik lagi jika ia kehilangan ingatannya.
Seseorang ke luar dari rumah sakit setelah 2 hari tak sadarkan diri. Hujan baru saja reda dan pelangi muncul di langit utara. Suasana sore yang begitu tenang. Ini adalah hari yang sempurna bagi Kira. Ia akan memulai hidup barunya setelah 2 hari berkelana di dunia bawah sadar.
Warna-warni di langit mulai memudar, namun Kira memutuskan untuk tetap menunggu kekasihnya datang menjemput. Hingga pelangi itu sempurna hilang, Tedy baru saja sampai di halaman rumah sakit.
“Maaf, Kira. Aku membuatmu menunggu” sesal Tedy setelah turun dari mobil. Kira hanya tersenyum.
“Aku beberapa kali menjengukmu, tapi kau tak sadarkan diri.” Tedy tampak berusaha memberi penjelasan, melihat Kira hanya diam.
“Aku mengerti,” kata Kira akhirnya. “Jangan terlalu mengkhawatirkanku, Sayang.”
Mendengar jawaban Kira dengan panggilan ‘sayang’nya itu, tiba-tiba air muka Tedy membeku. Rahangnya mengeras dan dadanya terisi penuh oleh keterkejutan.
“Aku harus menemui dokter. Kau tinggallah di sini sebentar” kata Tedy tegas. Ada getar aneh dalam nada bicaranya. Kira hanya mengernyitkan kening melihat kekasihnya berjalan cepat menuju ruang dokter.
“Amnesia retrograde. Nyonya Kira dipastikan terkena penyakit ini. Penderita akan kehilangan memori jangka pendek. Yaitu memori mengenai kejadian sebelum amnesia terjadi. Penyebabnya antara lain adalah kecelakaan atau kejadian yang menyebabkan shock dan trauma.”
Tedy terhuyung ke luar dari ruang dokter. Kenyataan terasa begitu berat baginya. Kesalahan terbesar bergelayut di pundak lelaki itu. Ia sadar telah menyakiti Kira, kekasih yang amat dicintainya. Namun Tedy juga menyadari ia mencintai Reta, adik kandung Kira yang kini hamil 2 bulan.
“Dokter bilang aku baik-baik saja kan, Sayang?” senyum Kira menyambut wajah lesu Tedy.
“Tentu” jawab Tedy singkat. Dipandangnya sepasang mata Kira yang penuh gurat cinta. Tedy tak menyangka bisa melihat mata itu lagi. Padahal beberapa malam yang lalu guratan cinta telah berubah menjadi benci dan kecewa.
Rumah megah dengan dua orang putri cantik, Kira dan Reta. Orangtua mereka begitu bangga dengan kedua bidadari yang selalu akur. Sayangnya, ibu-bapak itu berpirkir bahwa kebahagiaan sangat bergantung pada materi. Dan jadilah mereka jarang ada di rumah. Alhasil, selama bertahun-tahun Kira dan Reta hanya hidup berdua, berusaha saling melengkapi. Bahkan ketika Kira masuk rumah sakit, orangtuanya tak bisa pulang.
“Kak Kira! Aku senang kakak cepat keluar dari rumah sakit” sambut Reta dengan senyum dipaksakan. Ada sebersit kilat takut di kedua bola mata hitamnya.
“Reta.” Suara Kira datar.
Reta memejamkan mata. Ia siap dengan segala resiko demi meperjuangkan ayah bayi dalam kandungannya.
“Aku merindukanmu, adikku…”
Pandangan Reta sekejab menggelap. Apa ini? Kenapa Kira tidak marah? Oh, Reta menarik nafas lega. Mungkin kakak mengerti posisinya dan telah merelakan Tedy untuk bayi dalam kandungannya. Dengan lega dan penuh haru Reta balas memeluk Kira. Sementara Tedy yang melihat semuanya, diam membeku tanpa tau harus berbuat apa.
Reta menangis sesenggukan di depan meja rias. Tedy terduduk di bibir ranjang dengan pikiran kalut. Sekali lagi ia menyadari semua ini adalah salahnya. Tedy mencintai Kira, juga mencintai Reta dan bayinya.
“Sekarang bagaimana?” tanya Reta di sela isak tangisnya.
Tedy menggeleng. Ia tak yakin jika harus mengulang kejadian malam itu. Melihat mata Kira yang penuh cinta dipenuhi luka. Melihat Reta harus menjerit meminta maaf dengan suara pilu.
“Kita harus memberitahu Kak Kira sebelum terlambat” ujar Reta akhirnya, memberi keputusan.
Tedy mengangguk pelan. “Tunggulah dua-tiga hari lagi.”
Langit malam bertabur bintang. Hujan tidak turun seharian, mungkin tidak juga malam ini. Tedy dan Reta telah memilih hari.
Seperti mengulang sejarah, mereka bertiga makan malam di sebuah cafe bernuansa biru muda. Bedanya, kali ini Tedy sempat memesan makanan untuk Kira dan Reta. Mereka sempat makan sambil bersenda gurau. Tedy duduk berdampingan dengan Kira. Reta duduk di hadapan keduanya. Seorang wetress yang mungkin mengingat semuanya, mengerutkan kening heran melihat kejadian beberapa malam yang lalu mungkin akan terulang lagi.
Benar saja, wetress berseragan biru muda itu tak habis pikir. Sedang berlatih dramakah mereka bertiga? Atau berlatih skenario untuk casting film?
Dari kejauhan, dilihatnya gadis berambut panjang itu berurai air mata, tangisnya pecah lebih dahsyat dari beberapa malam lalu. Dengan cepat gadis berambut panjang itu beranjak pergi. Langkahnya gontai namun tegas meninggalkan area cafe. Tunggu dulu, sang wetress baru menyadari sesuatu. Wajah kedua gadis itu mirip. Jangan-jangan mereka adalah kakak-baradik. Kini pandangannya tidak tertuju pada gadis berambut panjang, tapi pada sosok lelaki yang duduk membeku disana. Dasar pria! Geram wetress itu dalam hati.
Langit bertabur bintang menghilang seketika. Berganti gulungan awan dan petir yang menyambar. Hujan akhirnya turun hari ini, membasahi jalan-jalan. Seorang gadis berambut panjang ke luar dari cafe bernuansa biru muda, dengan deraian air mata. Jalannya limbung, dan jelaslah gadis itu terpeleset di trotoar yang licin.
“Amnesia retrograde.” Dokter menjawab yakin.
Tedy dan Reta saling tatap. Apa yang harus mereka lakukan setelah Kira sadar nanti? Mengulang kejadian malam itu di cafe biru muda? Lagi?

just go

Suara jatuhnya air hujan sukses mengisi keheningan ini. Dalam kedinginan, Ana masih tetap bertahan duduk di samping Ervan di halte yang tak jauh dari sebuah rumah sakit sambil menunggu hujan berhenti.
Sudah hampir setengah jam berlalu, namun diantara mereka tak ada yang mau membuka percakapan lebih dulu. Sungguh, Ana tahu semua telah berubah. Kondisi tak seperti dulu dikala mereka bisa saling canda tawa dengan puasnya. Kini keadaan telah berbeda. Yang paling ia sesali karena telah ada hati yang tersakiti.
Karena sudah habis kesabarannya, Ana berniat ingin berlari menerobos hujan saja.
“Jangan pergi,” suara lirih itu sukses menghentikan gerakan Ana. “Gue mohon.”
Saat Ana menoleh ke arah Ervan, laki-laki itu juga balik menatap dirinya dengan tatapan yang agak kecewa. Setidaknya Ana tahu itu.
“Kenapa? Apa lo akan biarkan gue berdiam diri disini sampai membeku?” tanya Ana jadi ikut terbawa emosi.
Ervan segera membuang mukanya ke arah lain sambil menghela napas. “Maafkan gue.”
Ana menggeleng sambil berkata, “Jangan, jangan minta maaf. Gue yang seharusnya melakukan itu.”
Ana mencoba untuk kembali mendekatinya. Namun Ervan segera berkata, “berhenti! Jangan kembali, sebelum gue berubah pikiran. Pergilah, An.”
Mentari pagi tampaknya enggan membuka diri dengan terus berselimut dibalik awan yang gelap. Ana yang melihat cuaca mendung seperti itu hanya bisa menghela napas kecewa. Sudah dipastikan jam pelajaran olahraganya kali ini akan sangat membosankan.
“Anastasya,” panggil sang ketua kelas yang bernama Vicky. Vicky memang paling suka memanggil Ana dengan nama lengkap gadis itu.
“Ya-ya, gue tahu apa yang ingin lo bicarakan,” jawab Ana dengan cepat. “Sepertinya sebentar lagi hujan akan turun. Guess what? Kita nggak akan olahraga di lapangan, Vic.”
“Tapi belum tentu sebelum Pak Yogi yang mengatakannya,” balas Vicky. “Sudahlah, gue akan memanggilnya dulu. Lebih baik lo segera siapkan buku agenda kelas.”
Ana melepas kepergian Vicky yang melangkah menuju ruang guru dengan menghela napas murung. Tak ingin membuang waktu, ia segera menyiapkan buku agenda kelas. Ya, dirinya memang selaku sekertaris kelas ini.
“Ana, kenapa wajah lo murung begitu?” tanya Sarah, teman dekatnya. Lalu segera berseru, “Oh iya, you know what? Katanya Pak Yogi hari ini nggak masuk loh!”
“Benarkah?” bukan hal seperti itu yang diharapkan oleh Ana. “Padahal gue berharap olahraga kali ini basket.”
Sarah mengangguk. “Tak apalah. Kita kan bisa bermain sendiri.”
“Hm, Sar, apa yang kita lakukan sekarang nggak masalah?” tanya Ana sambil terus mendekap erat bola basket itu.
“Asal nggak ketahuan sih, nggak masalah,” jawab Sarah begitu tenang. “Lagipula, yang anak cowok aja pada ikut main. Ayolah! Kapan lagi kita senang-senang seperti ini?”
Meski awalnya ragu karena gerimis kini mulai turun, namun Ana tetap mengikuti ajakan Sarah untuk bermain basket di lapangan luar sekolah.
Mereka terus mendribble bola tanpa henti. Mencoba memasukkannya ke dalam ring dengan acak. Meski tubuh mereka telah kuyup karena air hujan, namun itu tak menghalangi permainan mereka.
Alan, Tama, Bobby, Zery, dan Mishel juga turut ikut bermain. Hanya Ana dan Sarah selaku anak cewek yang ikut bermain. Alasan Sarah klasik yaitu karena ingin bersenang-senang. Namun bagi Ana, ada satu hal yang membuat moment kali ini menjadi spesial.
“Hm, An,” panggil Sarah ditengah-tengah bermain. “Lo sadar ada Alan juga disini?”
Ana mencoba bersikap biasa saja. “Terus kenapa?”
Yeah, selama ini sudah menjadi rahasia umum kalau seorang Anastasya mengagumi Alan. Namun sepertinya cowok itu malah bersikap biasa saja. Entah karena tak peka, atau memang tak suka.
Karena hujan yang turun makin deras, mereka segera berlari ke tepi sekedar berteduh.
Tubuh mereka benar-benar basah. Ana pun mulai menggigil. Namun dalam hati ia merasa bahagia, bisa berada dalam satu moment bersama Alan. Ana terus memperhatikan gerak-gerik Alan yang berdiri tak jauh darinya. Ingin rasanya ia bertanya apakah cowok itu baik-baik saja. Atau mungkin juga sekedar mengelap wajah basah itu dengan handuk kecil miliknya yang masih terjaga. Namun rasanya semua itu begitu sulit untuk dilakukan.
“Ana, wajahmu mulai pucat tuh.” ucap Tama yang berada di dekatnya. Semua yang mendengar ucapan Tama barusan segera turut menoleh. Bahkan mata Ana bertemu dengan Alan. Namun tampaknya cowok itu hanya cuek menyaksikan dirinya yang memang sedang melawan dinginnya air hujan. Cowok itu malah beranjak entah kemana.
“Nih pake jaket gue.” ujar seseorang beberapa saat kemudian sambil melampirkan jaket ke tubuh Ana.
Refleks tubuh Ana mematung. Bagaimana tidak bila cowok itu ternyata tak lain memang Alan. Dinginnya air hujan ini menjadi terasa hangat di hati Ana.
“Jangan coba berani nekat main hujan-hujanan kayak ini lagi.” ucap Alan pelan nyaris seperti bisikan. Meski terdengar sebagai ancaman, namun Ana tetap mengangguk mengiyakan sambil tersenyum.
Ya, cinta telah membuatnya bertingkah konyol seperti ini.
“Hashhhcih!” Berkali-kali Ana bersin. Mungkin karena hujan-hujanan kemarin yang memberinya efek bersin-bersin seperti ini.
“Ya! Siapa suruh main hujan-hujanan? Lo jadi sakit dan gue yang ribet kan.” Cibir Ervan yang masih sibuk membuatkannya teh hangat.
“Lagipula kan main basket seru. Siapa suruh hujannya yang turun.” Sahut Ana konyol.
“Aww, sakit tau.” Ringis Ana saat Ervan menyentil pelan keningnya jail.
“Gue nggak yakin cuma itu alasan lo sampai rela hujan-hujanan seperti kemarin,” balas Ervan lagi. “Nih diminum dulu tehnya. Habis itu minum obat, lalu segeralah tidur. Semoga besok jadi lebih baik dan bisa sekolah lagi.”
Ana tersenyum simpul. Ia sangat heran kenapa Ervan begitu peduli dengannya. Cowok itu.. seakan begitu tahu akan dirinya. Seolah-olah memang Ervan sangat mengerti akan Ana.
Bahkan kata Sarah, Ervan memang menyukainya. Namun sampai kini, cowok itu belum berkata apa-apa padanya. Yeah, mereka terus menjalani pertemanan ini.
“Lo begitu baik, Van,” ucap Ana dengan tulus.
“Ya! Lo baru tahu itu?” cibir Ervan dengan canda. “Hei, itu jaket siapa? Gue rasa bukan milik lo, An.”
“Hm, oh, ini punya teman.” Jawab Ana sambil menggigit bibir bawahnya.
“Lo menyembunyikan sesuatu, Ana. Gue melihat itu.” Sial. Ana memang tak bisa mengelak lagi. “Itu jaket cowok kan? Siapa?”
“Alan. Ini jaket miliknya. Kemarin dia meminjamkannya untuk gue.”
“Hooh, sepertinya gue mengerti kenapa lo kemarin begitu nekat untuk main basket tanpa peduli akan kesehatan, An.” Ana menghela napasnya. “Ada cowok lain yang membuat lo tertarik ya, An? Cowok itu?”
Pertanyaan seperti itu sukses membuat napas Ana tersekat.
Ana masih berlarian di koridor rumah sakit mencari kamar nomor 114. Hatinya terus berdegup dan takut. Tapi ada sebesit rasa enggan untuk menjenguknya.
Sh*t. Dia harus melawan rasa egonya.
Sampai di depan kamar yang dituju, Ana langsung masuk dan bertemu langsung dengan kedua orangtua Alan. Setelah berbicara sejenak, Ana ditinggalkan berdua dengan Alan di ruangan ini karena kedua orangtua cowok itu yang ingin keluar sebentar.
Ana melangkah mendekat. Alan masih terbaring lemah dengan mata tertutup. Rupanya ia sedang tertidur.
Alan ternyata sudah lama menderita meningitis. Radang otak yang mematikan bila telat ditangani. Tapi untungnya ia sukses melewati masa kritis itu. Yang miris, kenapa Ana tak pernah tahu hal ini?
Ingin rasanya Ana mengelus tangan Alan dengan lembut. Menatap raut wajah Alan yang tidur dengan tenang membuat hati Ana hangat. Ana tersenyum sambil mengigit bibir bawahnya. Jujur aja hatinya seperti tersayat, ia merasa seperti orang asing bagi cowok itu.
“Gue disini, Lan,” ucap Ana seakan bicara dengannya. “Cepatlah sembuh. Gue.. Gue tahu kalau lo pasti kuat.”
Kemudian Ana menaruh buah-buahan yang tadi sempat ia beli di meja.
Saat ia berbalik, rupanya Alan kembali terbangun.
Alan cepat menyadari keberadaan Ana lalu menatap cewek itu lama.
“Lan, kalau lo nggak suka gue disini, gue akan pulang,” ujar Ana dengan segera.
Alan menggeleng lemah. “Jangan..”
Ana menghela napas lega.
“Terima kasih,” ucap Alan lagi. “Karena mau menjenguk gue.”
Belum sempat Ana menjawab, telah hadir seorang cewek yang sangat dikenal olehnya.
“Hai, Alan!” sapanya begitu ramah. Dia bernama Wenny, cewek yang sangat dekat dengan Alan. “Eh, ada Ana juga. Apa kabar?”
Ana mencoba tersenyum ramah. “Baik kok. Hm, Lan, gue ke luar dulu ya. Semoga lo cepat sembuh.”
“Eh, kenapa buru-buru?” balas Alan.
“Ah, itu gue ada keperluan lain.” Dusta Ana lalu segera melangkah ke luar.
Tes.
Air mata yang Ana pertahankan sejak tadi akhirnya jatuh juga. Di luar pintu kamar rawat Alan, Ana menangis. Selain khawatir pada keadaan Alan, juga muncul rasa cemburu dibenaknya melihat kedatangan Wenny.
Ana tertawa hambar sambil merutuki dirinya. “Gue bukan siapa-siapanya. Tapi mengapa gue merasakan hal bodoh seperti ini?”
Karena Ana baru ingat akan mau kembalikan jaket milik Alan, kemudian ia memilih untuk kembali masuk.
Namun saat ia baru membuka pintu, percakapan asik antara dua insan di dalam itu sukses membuat mereka tak menyadari kehadiran Ana.
“Bodoh,” balas Wenny dengan nada ceria. “Kenapa lo tega nggak ngasih kabar hal ini. Kalau kenapa-kenapa gimana? Kan penyakit itu fatal, Alan. Dan bisa-bisanya lo keliatan baik-baik aja selama ini di depan gue—“
Ana menyadari sesuatu..seperti berlebihan. Wenny terlihat sangat khawatir pada cowok itu, sama seperti dirinya.
“Ternyata lo begitu perhatian ya,” balas Alan sambil tertawa kecil. “Dan juga cerewet.”
Wenny tampak bete namun tersenyum juga.
“Udah gak usah ungkit yang lalu, oke?” pinta Alan lagi.
Wenny mengangguk.
“Wen,”
“Ya?”
“Maafin gue waktu itu nggak bisa dateng ke kafe buat acara kita.”
Wenny mengangguk lagi dengan arah pandang masih memperhatikan objek yang lain. “Gue udah tahu alasannya.”
“Maafin gue juga kalau lo jadi berpikir yang aneh tentang gosip gue sama cewek lain. Jujur aja itu nggak bener. Mereka yang-”
“Mereka yang deketin lo kan?” dusta Wenny malah tersenyum simpul. “Ya kan?”
“Alan liat gue,” panggil Wenny lagi.
Lalu Alan menurut. “Apa?”
“Boleh kasih gue kesempatan kedua?”
Deg.
Ucapan itu membuat Ana terkejut sampai tak sengaja membuat suara hentakan pintu yang ditutup. Hal itu sukses membuat Wenny dan Alan segera menoleh ke arahnya.
“Eh, Ana. Kenapa berdiri disitu?” tanya Alan berusaha membetulkan posisi duduknya.
Ana menjadi canggung. “Hm, nggak apa-apa. gue pulang dulu ya. Permisi.”
Ana pun pulang dengan perasaan nyeri juga penuh tanya.
Masih di halte dekat rumah sakit —dimana Alan sedang dirawat— Ana masih terus menatap Ervan yang berdiri agak jauh darinya dengan pandangan bertanya-tanya.
Mengapa?
“Setidaknya kasih gue alasan, Van. Atau lo bisa mengeluarkan semua yang lo pendam selama ini,” ucap Ana memohon lalu berdiri di hadapannya. “Gue telah mengecewakan lo, kan?”
“Dengan gue yang menemukan tadi lo menangis disini, gue udah bisa menyimpulkan, An,” jawab Ervan dengan tegas. “Alan kembali membuat lo sedih kan?”
Kembali mendengar nama Alan, tanpa terasa membuat Ana meneteskan air matanya. Ia segera menunduk malu. Malu pada sosok cowok di hadapannya ini yang telah menjadi teman dekatnya selama ini, namun ia hiraukan perasaan itu.
“Kenapa lo nggak jujur sama Alan—“
“Dan kenapa lo nggak jujur sama gue kalau lo memang menyukai gue, Van?” potong Ana sambil mencegah kedua tangan Ervan yang tadi ingin memegang bahunya.
Ervan balik menggenggam tangan mungil milik gadis satu ini. “Siapa bilang?”
Ana menatap mata Ervan mencari kebenaran. Lalu ia menggeleng pelan. “Mata lo nggak bisa bohong, Ervan.”
Satu Bulan Kemudian.
Ervan masih setia berdiri menunggu di dalam ruang rawat dimana Ana berbaring lemah di sebuah tempat tidur. Ia berjalan mondar-mandir sambil terus berdoa dalam hati agar gadis itu cepat diberi kesembuhan.
Beberapa waktu lalu, Ervan dapat kabar bahwa Ana mengalami kecelakaan mobil saat di perjalanan pulang. Ervan langsung cemas setengah mampus. Ia sangat takut karena tak ingin kehilangan gadis itu.
Sampai saat ini, kondisi Ana masih lemah. Kaki kanannya mengalami cedera dan mengharuskannya memakai kursi roda untuk sementara. Melihat kondisi Ana seperti itu, Ervan menjadi sangat prihatin.
Gdebuk.
Ervan segera menoleh ke sumber suara. Ternyata Ana sudah bangun dan malah jatuh ke lantai karena niat ingin mengambil air minum yang tak kunjung ia gapai.
“Kenapa nggak panggil gue, An kalau lo mau minum?” tanya Ervan khawatir sambil membantu Ana kembali balik ke kasur. “Tubuh lo makin sakit kan jadinya.”
“Gue.. gue cacat ya, Van?” lirih Ana.
“Sttt, lo nggak boleh ngomong gitu. Lo bakal bisa jalan kayak biasa lagi kok,” ujar Ervan berusaha menenangkannya. “Asal lo tetap semangat, An.”
Perlahan, Ana menyunggingkan senyuman. “Makasih karena lo selalu ada buat gue, Van.”
Ervan mengecup kening Ana pelan sehingga membuat tubuh gadis itu mematung, “Karena gue sayang sama lo, An.”
“Gue juga,” Ervan menarik Ana ke dalam pelukannya. “Suatu saat nanti, pelukan lo ini yang selalu gue rindukan, Ervan. Juga semua sifat cerewet lo yang akan gue perlukan. Tolong jangan pernah lupakan gue.”
“Gue selalu ada disini, An. Yang penting lo sembuh dulu,” Ervan melepas pelukan itu lalu menatap mata indah milik Ana. “Ah iya, ada mau jenguk lo nih.”
Flashback on.
BUG.
Ervan menghajar seorang cowok yang kini baru tiba di hadapannya berdiri. Refleks cowok itu sampai jatuh tersungkur menabrak dinginnya lantai.
Ervan menggeleng pelan. “Habis sudah kesabaran gue buat lo, Lan.”
Ya. Cowok itu tak lain ialah Alan. Alan baru datang hari ini buat menjenguk Ana. Tapi entah kenapa, Ervan langsung menghajarnya seperti tadi.
Sambil menyeka sudut bibirnya yang terasa perih, Alan bertanya, “Apa salah gue?”
Terbawa emosi, Ervan mengangkat sedikit kerah baju Alan lalu menyudutkannya ke dinding di dekat mereka. Ervan menatapnya dengan sengit. “Jadi cowok macem lo yang selalu membuat Ana murung? Dan baru hari ini lo tahu kalau dia dirawat?!”
Ervan tidak memberi Alan kesempatan untuk menjawab dan kemudian menghempaskan genggamannya tadi dengan kasar. “Kemana aja lo disaat Ana yang selalu khawatir sama lo? Hah?”
“Gue tahu gue salah,” ucap Alan perlahan sambil mengatur napasnya. “Tapi gue hanya nggak mau buat dia jadi berharap.”
Ucapan itu kembali membangkitkan emosi Ervan. “Berharap maksud lo? Selama ini hanya lo yang jadi pusat perhatian dia, Lan. Hanya lo. Apa lo nggak sadar hal itu?”
“Please, Lan,” lirih Ervan beberapa saat kemudian. “Sh*t, sejujurnya gue males mohon sama cowok macem lo. Tapi demi Ana, gue harap buat dia bahagia.. bersama lo.”
Flashback off.
“Alan?!” pekik Ana tak percaya akan orang yang muncul di balik pintu itu.
Alan tersenyum sambil melangkah mendekat. “Cepat sembuh, An. Sorry—”
“Makasih udah mau datang, Lan,” potong Ana riang sambil mencium bunga mawar putih yang dibawakan Alan. Ana tersenyum manis. “Ini aja udah cukup. Makasih, Lan.”
Ervan yang memperhatikan dengan seksama, berusaha untuk tetap ikhlas. Ia menatap Alan sejenak, lalu mengangguk mengisyaratkan sesuatu bahwa dirinya baik-baik saja. Ia harus turut bahagia melihat kebahagiaan gadis yang selama ini ia sayangi itu, meski bukan harus dengan dirinya.
END

jodoh pasti bertemu

Siska berangkat mewakili sekolahnya untuk Perkumpulan Muda Mudi seKabupaten. Disana di bertemu banyak sekali perwakilan dari sekolah sekolah sedaerahnya dan ada cowoknya juga ganteng ganteng lagi, apalagi mentornya. Disana Siska termasuk yang aktif dan pintar pengetahuanya tentang masyarakat cukup luas dan penganggapanya selalu dari segala aspek
Tibalah saatnya acara puncak semua berkumpul sebagai pembantu panitia untuk semua peserta tingkat SMA. Tiada disangka penitia menyiapkan kejutan untuk para siswa SMA yaitu cerdas cermat dadakan dan ini berhubungan dengan pelajaran SMA yang umum seperti bahasa inggris matematika dan PKN. Akhirnya siska berhasil mengalahkan perwakilan dari anak kota dan dia cowok, ganteng pula tapi sayangya tidak lebih pintar dari siska padahal dia sudah kelas dua belas di SMA ternama pula.
Acara puncak pun selesai semua kembali ke daerah masing masing dan melakukan aktivitas seperti biasa. Entah kenapa siska senang sekali dangan semua kejadian yang ada di balai kota kemarin rasanya dia ingin mengulang semuanya kembali suatu saat nanti. Lagi enak enak ngelamun tiba tiba ada motor lewat depan rumahnya dan ternyata itu adalah cowok yang menjadi lawanya saat di Final cerdas cermat dadakan kemarin “kenapa dia ada disini?” gumamnya dalam hati. Ternyata Siska dan cowok itu adalah tetangga jauh dan orangtua mereka sudah saling kenal.
Suatu hari mereka dipertemukan dalam suatu acara pendaftraran untuk saka Pemuda Berkarya disitulah mereka saling berkenalan namanya Adalah Rendy dan bertukar alamat facebook lalu mereka saling bicara.
“Kamu ikutan Saka juga?” Sapa Rendy pada Siska
“iya nih buat tambah pengalaman” kemudian ditengah tengah perbincangan mereka, ada yang datang menghampiri
“Siska?”
“Kak Riko?”
“Kamu yang pinter banget waktu ada acara di kota itu kan?. ikutan Saka juga?”
“iya kak. Kakak juga ikutan?”
“iya dong. Sambil kuliah juga harus ada kegiatan”
“wah, hebat banget”
“yang ini juara dua cerdas cermat itu ya?”
“Iya kak. Ternyata saya masih kalah sama si Siska”
“hehehe.. oya sis, aku boleh minta pin BB kamu nggak?”
“buat apa kak?”
“ya.. buat tambah temen aja. Oya kamu sekalian ya Rendy”
“owh oke kak.” Kemudian mereka saling berbicara lewat BBM dan saling akrab satu sama lain dan Riko dan Siska pun semakin akrab dan sering bertemu
Beberapa hari kemudian di tempat siska ada bazaar yang besar semuanya ada disana mulai dari alat sekolah sampai perabotan rumah tangga dan permainan anak dan dewasa juga ada. Disana siska belanja banyak barang dan makan sepuasnya an saat siska di kedai bakso dia ketemu dengan Indah, yaitu sepupunya Rendy. Dia bersama teman temanya makan bareng dan sempat membicarakan Rendy katanya Rendy sudah punya pacar namanya Meta,
“Kak Siska ya?” sapa Indah
“iya. Sepupunya Rendy ya?”
“Iya. Wah.. nggak nyangka ketemu disini. Ternyata kak Siska cantik banget ya..”
“Kamu bisa aja” setelah mendengar hal tersebut Siska tidak berhenti memikirkanya
Lama sudah siska tidak bertemu dengan Rendy dan siska merasa kangen sekali tiba tiba ada BBM masuk dan ternyata dari Rendy tapi siska tidak membalasnya. Saat siska tengah membaca buku yng dibeli dari bazaar mamanya datang menghampiri. Dia hanya mengatakan kalau di rumah rendy akan ada pernikahan kakaknya rendy dan mereka diundang
“siska, besok kita ke rumah indah ya kita diundang untuk menghadiri pernikahan kak Dini”
“iya mah”
Di sana mewah sekali, ada band terkenal di kota pula. Disana siska disuruh menyanyikan sebuah lagu dan suaranya bagus sekali saat itu juga rendy mendengar suaranya kemudian orangtua rendy menghampiri siska dan memujinya
“wah ternyata Siska ini penyanyi ya?”
“ah enggak kok tante Cuma hoby aja”
“tapi suaranya bagus loh”
“makasih tante”
Setelah lama disana siska merasa haus dan ingin minum, disanalah siska dan rendy bertemu rendy mengatakan kalau dia kagum dengan siska kemudian siska mengingatkan rendy kalau dia sudah punya pacar
“aku baru tau kalau kamu punya suara emas” Rendy mengejutkan siska dari belakang
“ah biasa aja kok kak”
“kamu jangan merendah deh”
“siapa yang merendah?”
“oya aku mau ngomong sama kamu.”
“ngomong aja”
“sebenarnya selama ini aku suka sama kamu”
“apa?”
“iya aku kagum sama kamu saat pertama kali kita bertemu. Kamu tuh pinter, cantik, percaya diri, suaranya bagus lagi, kamu juga sederhana”
“bagaimana dengan Meta?”
“aku udah putusin dia”
“kenapa?”
“karena aku nggak cinta sama dia, dia tuh beda banget sama kamu aku lebih suka sama kamu”
“maaf kak. Aku nggak bisa”
“kenapa?”
“aku udah punya kak Riko?”
“Riko?. Sejak kapan?”
“baru satu minggu ini” mereka berdua terdiam
“kalian benar benar serasi, selamat ya semoga langgeng” Rendy air matanya menetes kamudian pergi
Mantan pacar rendy pun mengetahuinya dan terjadi perdebatan antara siska dan meta
“oh. Jadi ini yang rebut pacar aku dari aku?”
“apa kamu bilang?. Asal kamu tau ya aku nggak pernah merebur pacarmu dan aku sendiri udah punya pacar”
“alah jangan alasan deh kamu aku tau sendiri kalau kamu udah membuat pacarku jatuh cinta sama kamu dan meninggalakan aku”
“maaf ya aku tidak pernah bicara sama pacar kamu tapi untuk jelasnya silahkan klarifikasi dengan pacar kamu terimakasih.”
Kemudian siska berganti marah dengan rendy dan rendy berkata kalau dia sudah putus dengan meta sejak sebelum pernikahan kakaknya tapi siska tidak percaya.
“kak bukanya aku udah bilang kalau aku sudah punya pacar. Tapi kenapa kakak belum mengerti juga?”
“maksud kamu apa?. Aku udah penuhi permintaan kamu untuk tidak ganggu kamu tapi kenapa kamu masih marah sama aku?”
“kakak tau, Meta kemarin menemui aku dan marah marah sama aku katanya aku merebut kamu darinya”
“dia menemui kamu? Dasar keterlaluan” kemudian Rendy pergi
“hey, mau kemana” teriak siska tapi Rendy tidak menjawabnya dan lari entah kemana
Akhirnya rendy mendatangi meta dan menegurnya kemudian mereka bertiga bertemu dan menyelesaikan masalah ini dan ternyata rendy dan meta sudah putus tapi meta masih ngejar ngejar rendy
“meta, aku udah bilang kalau kita udah putus tapi kenapa kamu masih mengurusi kehidupan aku juga?”
“Maaf Ren aku nggak bisa lupain kamu. Aku nggak mau kita putus”
“terserah kamu. Tapi aku udah nggak ada hubungan apa apa lagi sama kamu jadi jauhi aku” kemudian rendy pergi
“rendy, Rendy.” Teriak Meta
Sementara itu Riko dan siska beremu..
“sayang, aku mau ngomong sama kamu”
“ngomong aja”
“aku tau selama aku pacaran sama kamu, hati kamu tuh nggak pernah sama aku, aku tau kalau kamu mencintai orang lain dan aku Cuma mau ngasih ini” sambil menyerahkan kotak musik yang pernah diberikan Siska
“ini kan buat kakak”
“aku tau sebenarnya ini bukan buat aku” sambil meenggeser alas kotak musik itu dan ada sepucuk surat yang tertuju untuk Rendy
“okey ini memang kesalahan aku. Aku berpikir aku akan memberikan ini kepada Rendy, tapi kemudian aku menemukan sesuatu yang nggak pernah kuduga dan itu kakak.”
“tapi kalau ini kita lanjutin akan sama sama sakit. Aku memang sayang sama kamu, tapi kalau hati kamu bukan buat aku terus untuk apa aku pertahanin kamu”
“aku nggak bisa ngomong apa apa”
“begini aja, kamu cari kehidupan kamu, aku cari kehidupan aku sendiri”
“ya udah kalau itu yang kakak mau aku ikhlas” kemudian Siska pun pulang sambil menangis
Keesokan harinya Siska dikejutkan dengan kedatangan Rendy yang menjeputnya di depan rumah
“Sis aku mau ngomong sama kamu”
“maaf kak aku nggak mau kena marah sama meta lagi”
“aku udah putus sama dia dan aku nggak ada hubungan lagi sama dia dan aku mau kamu yang jadi pacar aku”
“kakak emang pantang menyerah ya”
“itu karena cintanya yang besar sama kamu”
Tiba tiba Meta datang
“Meta?” Siska terkejut
“iya aku udah ikhlas kok kalau kamu pacaran sama Rendy”
“beneran?” Rendy sambil tersenyum
“iya Rend, dan sekarang Siska kamu terimalah Rendy.”
“tapi kamu?” Siska dengan khawatir
“aku akan menjadi lebih baik lagi karena kejadian ini dan akan merubah diri menjadi lebih baik untuk bisa fokus menata masa depan” Rendy berjanji kepada Siska
“baiklah aku akan terima” Setelah kejadian itu rendy dan siska berpacaran
Tamat

dia atau aku

Gumpalan awan putih terlihat berarak menutupi sebagian wajah langit yang begitu cerah hari ini. Di bawahnya terhampar luasnya laut bening berwarna hijau tosca. Namun sayangnya hatiku tidak secerah langit yang membentang di atas, tidak sebening air laut yang menghampar di hadapanku.
Aku sering menghabiskan waktu di tempat yang penuh ketenangan ini tatkala perasaanku sedang kacau. Dan benar saja, saat ini aku tengah dilanda perasaan acak yang tak karuan. Perasaan marah, sedih, kecewa, bercampur jadi satu.
Aku masih bisa mengingat dengan jelas episode hidup yang baru saja kualami semalam. Semuanya masih tergambar dengan jelas, bahkan rasa sakitnya pun masih terasa hingga tanpa kusadari air mataku telah mengalir entah sejak kapan.
Semalam aku dan Ryan memutuskan untuk mengakhiri hubungan setelah menjalin asmara selama hampir dua tahun. Waktu yang cukup lama untuk bisa saling menyelami hati di antara kami. Tapi ternyata waktu dua tahun itu tidak bisa membuatku meluluhkan hatinya. Dan selama itu pula aku tidak pernah benar-benar memiliki hatinya.
Sejak awal aku memang sudah tahu kalau aku tidak pernah ada dalam hati Ryan. Aku hanya tahu kalau di hatinya hanya ada Sarah, gadis cantik yang pernah memiliki hatinya.
Meskipun hubungan Ryan dan Sarah telah lama berakhir tapi aku tahu Ryan belum mampu melupakan Sarah. Dan aku yakin sampai detik ini Ryan juga belum mampu melupakannya.
Aku mengagumi Ryan sejak dulu. Tapi aku sadar kalau aku tak mungkin bisa mendapatkannya. Hatinya telah dimiliki oleh Sarah. Jadi kuputuskan untuk menjadi pengagum rahasia saja, meskipun sakit tapi itulah resikonya menyukai seseorang yang telah menjadi milik orang lain.
Aku selalu mengamati Ryan. Aku suka melihat senyumnya. Bagiku itu adalah senyum termanis yang pernah kulihat. Aku selalu berharap agar bisa mendapatkan senyumnya. Pernah suatu hari ia tersenyum kepadaku. Manis sekali. Bahkan senyum Daniel Radcliff pun masih kalah jauh dengan senyumnya.
Byurr…
Deburan ombak membuyarkan lamunanku. Aku lupa sudah berapa lama aku ada di sini hingga tanpa kusadari matahari semakin condong ke barat pertanda malam akan segera tiba. Jadi kuputuskan untuk segera meninggalkan tempat ini.
Aku memulai aktivitasku sebagai mahasiswi seperti biasanya. Aku tak mau terlalu larut dalam kesedihan. Meskipun berat namun aku akan berusaha untuk melupakan Ryan, pemuda paling kucintai sekaligus paling kubenci.
Aku berharap hari ini aku tidak akan bertemu Ryan di kampus, sengaja ataupun tidak. Namun harapanku sia-sia. Begitu aku hendak menginjak anak tangga pertama, tiba-tiba ia muncul menuruni tangga. Aku cukup terkejut, tapi aku berusaha menyembunyikan keterkejutanku itu.
Untuk beberapa detik lamanya mataku terpaut pada matanya. Lalu dengan sigap kualihkan pandanganku darinya. Ada perasaan enggan untuk menyapanya. Lagipula untuk apa aku menyapanya toh ia juga tidak pernah peduli padaku. Jadi aku segera menaiki anak tangga berikutnya agar aku bisa segera meninggalkannya.
“Aira!” Kata Ryan sambil menarik tanganku dan tentu saja tindakannya itu membuatku nyaris jatuh.
“Ada apa lagi? Belum puas kau menyakitiku? Tidak cukup kau mempermainkanku? Atau kau masih ingin menjadikanku pelampiasan cintamu?” Kuberondong dia dengan pertanyaan bertubi-tubi hingga ia tak bisa berkata-kata. Aku merasa suaraku bergetar menahan marah dan air mata yang sebentar lagi akan tumpah.
“Maaf.” Hanya itu kata yang terlontar dari mulutnya.
Ryan pun meninggalkanku sendiri dan aku hanya bisa menangis menatap kepergiannya. Kakiku terasa lemas hingga aku jatuh terduduk di anak tangga. Beberapa orang melintas di sampingku seraya memandangku. Tapi aku tak peduli dengan semua mata yang memandangku. Aku hanya ingin sendiri. Lalu aku segera bergegas menuju suatu tempat.
Angin laut menerpa wajahku. Panas. Namun tidak sepanas hatiku. Hatiku yang sudah sejuk kembali panas setelah aku melihat Ryan. Ini adalah hari kedua sejak aku dan Ryan mengakhiri hubungan cinta kami. Cinta kami? Ah bisakah itu disebut cinta kami? Atau cintaku saja? batinku.
Aku ingat ketika Ryan dan Sarah akhirnya mengakhiri hubungan cinta mereka. Mungkin Sarah juga merasakan apa yang tengah kurasakan atau justru tidak merasakannya sama sekali. Waktu itu yang aku lihat justru Ryan lah yang begitu terpukul. Hampir sebulan aku tidak pernah melihat senyum manis yang biasa selalu tersungging di bibirnya.
Jujur saja aku merasa sakit melihat keadaan Ryan yang seperti itu. Aku pun berusaha menyembuhkan luka hati Ryan semampuku. Tapi aku tak memiliki maksud tertentu. Aku tidak begitu jahat sehingga aku akan memanfaatkan momentum ini untuk mencuri hati Ryan.
Ketika itu aku melihat Ryan tengah duduk sendiri di bangku taman sekolah. Tak banyak orang yang mau duduk di bangku itu. Mungkin karena ada anggapan bahwa bangku itu hanya diduduki oleh orang yang sedang galau.
Entah kekuatan apa yang mendorongku mendekat pada Ryan. Selama ini aku tidak punya keberanian yang cukup bahkan hanya untuk berdiri di sampingnya. Kuamati wajahnya. Raut wajahnya menampakkan kesedihan yang sangat dalam.
“Sampai kapan kau akan terus larut dalam kesedihan?” Tanyaku hati-hati.
“Dia sangat berarti bagiku. Bagiku dia adalah nyawa hidupku.” Kata Ryan. Kata-kata itu membuatku lumayan sesak.
“Ayolah tak perlu larut dalam kesedihan seperti ini. Masih banyak orang yang lebih sakit daripada kau, tapi mereka tetap bangkit.” Aku tidak yakin kalimatku ini akan cukup memotivasi Ryan.
Dia terdiam cukup lama setelah mendengarkan kata-kataku. Lalu akhirnya ia berkata, “Kau benar. Aku tidak perlu terlalu larut dalam kesedihan. Itu hanya akan menambah beban hatiku.”
Senang rasanya aku bisa kembali melihat senyum manis Ryan yang sempat raib entah ke mana. Sejak saat itu kami berteman baik. Hingga suatu hari aku dikejutkan dengan pernyataannya.
“Aira, selama ini aku telah merepotkanmu.” Kata Ryan.
“Oh tidak masalah, aku hanya berusaha menjadi teman yang baik.” Kataku.
“Hm… Aira maukah kau menjadi kekasihku?” Kata-kata Ryan sontak membuatku terkejut.
Karena aku telah menyukai Ryan sejak lama maka tanpa pikir panjang aku pun menerimanya. Namun beberapa bulan kemudian aku baru menyadari kalau ternyata dia tidak benar-benar mencintaiku. Ia bahkan tidak pernah mengatakan cinta padaku.
Aku tidak tahu mengapa ia memintaku untuk jadi kekasihnya. Aku tahu di hati Ryan hanya ada Sarah, tak ada Aira. Tapi apa peduliku, semuanya telah terjadi. Dalam masa-masa itu aku berusaha menaklukkan hati Ryan secara perlahan meskipun aku tahu usahaku akan sia-sia.
Dalam kurun waktu hampir dua tahun kisah cintaku dengannya, tak jarang aku makan hati. Ia selalu menyebut nama Sarah di depanku, entah dia sadar atau tidak. Bahkan dia juga sering memanggilku dengan nama Sarah.
“Aira dan Sarah apa bedanya?” Hanya itu yang dia ucapkan jika aku sedikit keberatan.
Selama hampir dua tahun itu pula ia selalu membandingkan aku dengan Sarah. Aku tahu Sarah adalah sosok gadis anggun dan lemah lembut, sangat berbeda 180 derajat dariku. Tapi aku juga tahu bahwa aku tak bisa selamanya menjadi Sarah, aku tak pernah jadi diriku sendiri. Ryan selalu memintaku agar berpenampilan seperti Sarah. Menurutnya wajahku agak mirip dengan Sarah, hanya wataknya saja yang berbeda. Nama pun hampir sama.
Aku selalu menuruti apa yang diinginkan Ryan. Tak peduli aku sakit atau tidak aku akan selalu menyenangkan hatinya karena bagiku kebahagiaan Ryan adalah kebahagiaanku juga.
Perlahan aku mulai jenuh dan kesal dengan semua kelakuan Ryan. Aku mulai berpikir kalau ia hanya ingin mempermainkanku. Mungkin aku begitu bodoh karena telah menerima dia sebagai kekasihku padahal dengan jelas aku tahu kalau dia tidak pernah mencintaiku. Dia hanya mencintai Sarah.
Puncak kekesalanku muncul ketika kami sedang makan malam di salah satu kafe tempat biasa kami bertemu. Seperti biasa dia kembali memanggilku dengan nama Sarah. Awalnya aku masih bisa bersabar tapi ketika dia memanggilku lagi dengan nama itu, kesabaranku sudah habis.
Dengan sekali gerakan aku pun menggebrak meja di hadapanku. Aku bisa bisa melihat rona keterkejutan di wajah Ryan, begitupun orang-orang yang ada di sekitar kami.
“Aira! Apa yang kau lakukan?” Tanya Ryan. Masih ada sisa keterkejutan di wajahnya.
“Aku sedang menggebrak meja. Apa kau tidak melihatnya? Oh iya aku lupa, aku lupa bahwa kau memang tidak pernah melihat apa yang aku lakukan. Kau hanya melihat Sarah. Yang ada dalam pikiranmu hanya Sarah, Sarah dan Sarah. Apa kau tidak pernah peduli bagaimana perasaanku?” Cecarku.
Air mata sudah membasahi pipiku. Aku terdiam mengambil napas. Kulihat tangan Ryan yang hendak menghapus air mataku. Aku segera menampik tangannya.
“Maafkan aku, Aira. Aku sungguh tidak berniat menyakitimu. Aku akui aku memang masih mencintai Sarah, tapi…”
“Jika memang kau masih mencintai Sarah, kenapa kau menjadikanku kekasihmu? Apa kau ingin mempermainkanku? Apa salahku? Atau kau hanya menjadikanku sebagai pelampiasan? Iya kan?” Tanyaku seraya mengguncang tubuhnya yang jangkung.
Kulihat Ryan seolah hendak mengatakan sesuatu, tetapi aku tak ingin mendengar apa-apa lagi darinya.
“Selama ini aku selalu bersabar dengan segala kelakuanmu itu. Aku bahkan berharap agar bisa menggantikan posisi Sarah di hatimu, walau aku tahu itu tidak akan bisa. Aku hanya ingin mencintaimu sebagai Aira bukan Sarah. Tidakkah kau berpikir mengapa aku ingin melakukan semuanya? Itu karena aku mencintaimu. Tapi jika memang tak ada tempat di hatimu untukku, maka aku akan pergi dari kehidupanmu. Mulai hari ini aku bukan kekasihmu lagi. Jika nanti kita bertemu entah di mana, anggap saja kita tidak pernah kenal.” Kataku panjang lebar.
“Baik kalau itu maumu. Pergilah!” Kata Ryan. Ada nada yang sulit kumengerti tatkala ia mengucapkan kata itu.
Aku segera berlari ke luar kafe. Tak kuhiraukan beberapa pasang mata yang tadi menonton pertengkaran kami. Ah bukan, ini bukan pertengkaran, ini tak lebih dari sekedar ungkapan hatiku.
Matahari semakin condong ke barat. Cukup lama juga aku di sini. Mengenang masa-masa dengan Ryan. Tak ada yang begitu istimewa. Tak ada kenangan indah apalagi romantis. Tidak perlu terlalu bersedih toh mungkin Ryan juga tidak peduli.
Baru saja aku hendak beranjak pergi ketika kudengar suara berat seseorang yang memanggilku.
“Aira!” Suara yang begitu akrab di telingaku.
Dan benar saja, itu Ryan.
“Apa? Dan dari mana kau tahu aku ada di sini?” Tanyaku dengan nada sinis.
“Dari mana aku tahu itu tak penting.” Kata Ryan. “Aira, aku tahu aku salah tapi kumohon maafkan aku!”
“Bukannya aku tidak mau memafkanmu, tapi aku hanya butuh waktu untuk melupakan rasa sakitku.”
“Aku mengerti. Tapi aku akan berusaha agar kau mau memaafkanku.”
“Terserah.”
Aku pun berlalu meninggalkan Ryan.
Sudah seminggu Ryan berusaha meminta maaf padaku. Awalnya aku tidak peduli tapi karena aku melihat ketulusan di matanya akhirnya aku luluh juga.
“Aira, aku benar-benar minta maaf. Cara apa lagi yang harus kulakukan agar kau mau memaafkanku?”
“Hm… sebenarnya aku sudah memaafkanku. Aku hanya ingin memberi hukuman saja padamu.”
Senyum merekah di wajah Ryan. Lalu dia berkata, “Waktu itu aku memang masih mencintai Sarah tapi di sisi lain aku juga mulai mencintaimu. Kau selalu ada untukku. Awalnya aku memang menjadikanmu sebagai pelampiasan tapi aku selalu bisa merasakan ketulusan dalam dirimu. Kau gadis yang hangat.” Ryan menghela napas. “Maaf kalau selama ini aku menyakitimu.”
“Jadi, sebenarnya hatimu untuk Sarah atau aku?” Tanyaku.
“Tentu saja untukmu.”
“Benarkah? Lalu bagaimana dengan Sarah?”
“Dia telah lama melupakanku. Aku saja yang terlalu menanti harapan kosong. Tapi setelah ada kau semuanya berubah.” Kata Ryan. “Aira, kita mulai hubungan kita dari awal lagi. Kau mau kan?”
Tanpa berpikir panjang aku pun mengangguk mengiyakan. Lalu kulihat senyum Ryan merekah. Manis sekali. Senyum yang akan menjadi sumber inspirasiku.